Doa
INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI'UUN, ALLOOHUMMA JURNII MIN MUSHIBATII WAKHLUF LII KHOIROM MINHA"
amazing onions get away flu
In 1919 when the flu killed 40 million people there was this Doctor that visited the many farmers to see if he could help them combat the flu... Many of the farmers and their families had contracted it and many died.
Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta
Inilah yang patut dipahami setiap insan beriman. Bahwa cobaan kadang dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah dan tanda bahwa Allah semakin menyayangi dirinya. Dan semakin tinggi kualitas imannya, semakin berat pula ujiannya.
Faktor-Faktor Yang Memudahkan Shalat Tahajjud
Sesungguhnya melakukan shalat Tahajjud dan mengekang dorongan hawa nafsu dan syaitan, adalah sesuatu yang teramat berat dan sulit kecuali bagi orang yang dimudahkan dan ditolong oleh Allah. Ada beberapa faktor yang bisa membantu dan memotivasi seseorang untuk melakukan shalat Tahajjud serta memudahkannya dengan izin Allah. Faktor ini terbagi dua bagian; sarana lahir dan sarana batin.
benefit of Al-Kahf
It is recommended to recite Surat al-Kahf completely the night before Friday, and it is also recommended to do so Friday itself, before Maghrib time. Ibn Abidin said, �And it is best to do so early on Friday, in order to rush to the good and to avoid forgetting. � [Ibn Abidin, Radd al-Muhtar, �Bab al-Jumu`ah�]
FREE SMS
my fav
Showing posts with label notes. Show all posts
Showing posts with label notes. Show all posts
Sunday, November 10, 2013
Wednesday, November 6, 2013
dua
رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
"O my Lord! bestow wisdom on me, and join me with the righteous
dua
My Lord, I seek refuge in You from asking that of which I have no knowledge. And unless You forgive me and have mercy upon me, I will be among the losers
Sunday, February 10, 2013
doa
"INNAALILLAAHI WA INNAA ILAIHI ROOJI'UUN, ALLOOHUMMA JURNII MIN MUSHIBATII WAKHLUF LII KHOIROM MINHA"
Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali, ya Allah berilah aku pahala dari musibah yang ku alami ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.
Verily unto Allah we belong, and unto Him shall we return. O Allah! Reward me in my calamity, and grant me from it something better than that.
Artinya: Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali, ya Allah berilah aku pahala dari musibah yang ku alami ini dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya.
Verily unto Allah we belong, and unto Him shall we return. O Allah! Reward me in my calamity, and grant me from it something better than that.
Umm Salama reported Allah's Messenger (may peace be upon him) as saying: If any Muslim who suffers some calamity says, what Allah has commanded him," We belong to Allah and to Him shall we return; O Allah, reward me for my affliction and give me something better than it in exchange for it," Allah will give him something better than it in exchange. When Abu Salama died she said: What Muslim is better than Abu Salama whose family was the first to emigrate to the Messenger of Allah (may peace be upon him). I then said the words, and Allah gave me God's Messenger (may peace be upon him) in exchange. She said: The Messenger of Allah (may peace be upon him) sent Hatib b. Abu Balta'a to deliver me the message of marriage with him. I said to him: I have a daughter (as my dependant) and I am of jealous temperament. He (the Holy Prophet) said: So far as her daughter is concerned, we would supplicate Allah, that He may free her (of her responsibility) and I would also supplicate Allah to do away with (her) jealous (temperament). -Muslim :: Book 4 : Hadith 2000
http://hadist.masjid.asia/p/blog-page_8.html
http://www.searchtruth.com/searchHadith.php?keyword=calamity&translator=2&search=1&book=&start=0&records_display=100&search_word=any
Saturday, February 9, 2013
Ujian dan Musibah Tanda Allah Cinta
Posted: 07 Feb 2013 04:20 AM PST
Friday, February 8, 2013 6:42 AM
Inilah yang patut dipahami setiap insan beriman. Bahwa cobaan
kadang dapat meninggikan derajat seorang muslim di sisi Allah dan tanda
bahwa Allah semakin menyayangi dirinya. Dan semakin tinggi kualitas
imannya, semakin berat pula ujiannya. Namun ujian terberat ini akan
dibalas dengan pahala yang besar pula. Sehingga kewajiban kita adalah
bersabar. Sabar ini merupakan tanda keimanan dan kesempurnaan tauhidnya.iloveAllaah.com Indonesian Version
Dari Anas bin Malik, Nabi sallAllaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).
Juga dari hadits Anas bin Malik, beliau sallAllaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
“Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah no. 4031, hasan kata Syaikh Al Albani).
Faedah dari dua hadits di atas:
1- Musibah yang berat (dari segi kualitas dan kuantitas) akan mendapat balasan pahala yang besar.
2- Tanda Allah cinta,
Allah akan menguji hamba-Nya. Dan Allah yang lebih mengetahui keadaan
hamba-Nya. Kata Lukman -seorang sholih- pada anaknya,
يا بني الذهب والفضة يختبران بالنار والمؤمن يختبر بالبلاء
“Wahai anakku, ketahuilah bahwa emas dan
perak diuji keampuhannya dengan api sedangkan seorang mukmin diuji
dengan ditimpakan musibah.”
3- Siapa yang ridho dengan ketetapan Allah, ia akan meraih ridho Allah dengan mendapat pahala yang besar.
4- Siapa yang tidak suka dengan ketetapan Allah, ia akan mendapat siksa yang pedih.
5- Cobaan dan musibah dinilai sebagai ujian bagi wali Allah yang beriman.
6- Jika Allah
menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia
dengan diberikan musibah yang ia tidak suka sehingga ia keluar dari
dunia dalam keadaan bersih dari dosa.
7- Jika Allah menghendaki
kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia
perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak. Ath Thibiy
berkata, “Hamba yang tidak dikehendaki baik, maka kelak dosanya akan
dibalas hingga ia datang di akhirat penuh dosa sehingga ia pun akan
disiksa karenanya.” (Lihat Faidhul Qodir, 2: 583, Mirqotul Mafatih, 5:
287, Tuhfatul Ahwadzi, 7: 65)
8- Dalam Tuhfatul Ahwadzi
disebutkan, “Hadits di atas adalah dorongan untuk bersikap sabar dalam
menghadapi musibah setelah terjadi dan bukan maksudnya untuk meminta
musibah datang karena ada larangan meminta semacam ini.”
Jika telah mengetahui faedah-faedah di atas, maka mengapa mesti bersedih? Sabar dan terus bersabar, itu solusinya.Semoga Allah memberi kita taufik dalam bersabar ketika menghadapi musibah. Wallahul muwaffiq.
Related posts:
- 11 Renungan Ketika Mendapati Musibah
- Tanda-Tanda Hari Kiyamat Besar dan Kecil
- Tanda-tanda Kebaikan dan Keburukan
- Hikmah Dibalik Musibah
- Makna Ujian
- Dialog Allah SWT dan Malaikat tentang Orang-Orang yang Berdzikir dan Berdoa
- Ramadhan dan Taubat Kepada Allah
- Anjuran Untuk Mencintai dan Membenci Karena Allah
Monday, January 28, 2013
Faktor-Faktor Yang Memudahkan Shalat Tahajjud
Oleh Muhammad bin Suud Al-Uraifi
Sesungguhnya melakukan shalat Tahajjud dan mengekang dorongan hawa nafsu dan syaitan, adalah sesuatu yang teramat berat dan sulit kecuali bagi orang yang dimudahkan dan ditolong oleh Allah.
Ada beberapa faktor yang bisa membantu dan memotivasi seseorang untuk melakukan shalat Tahajjud serta memudahkannya dengan izin Allah. Faktor ini terbagi dua bagian; sarana lahir dan sarana batin.
Faktor Lahir:
1. Menjauhi Perbuatan Dosa Dan Maksiat
Yaitu, tidak melakukan perbuatan dosa di siang hari dan di malam hari, karena hal itu bisa membuat hati keras dan menghalangi seseorang dari curahan rahmat.
Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, "Wahai Abu Sa'id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?" Al-Hasan menjawab, "Dosa-dosamu mengikatmu."[1]
Sufyan ats-Tsauri berkata, "Selama lima bulan aku merugi tidak melakukan shalat Tahajjud karena dosa yang aku perbuat." Ia ditanya, "Apakah dosa yang engkau lakukan?" Ia menjawab: "Aku melihat seseorang menangis, lalu aku berkata dalam diriku, 'Orang ini riya'.'"[2]
Sebagian orang shalih berkata, "Betapa banyak makanan yang bisa menghalangi orang melakukan shalat Tahajjud dan betapa banyak pandangan yang membuat orang rugi tidak membaca sebuah surat. Sesungguhnya seorang hamba kadang memakan suatu makanan atau melakukan suatu perbuatan lalu ia diharamkan karenanya dari melakukan shalat Tahajjud selama setahun."[3]
Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Bila kamu tidak mampu melakukan shalat Tahajjud di malam hari dan puasa di siang hari maka kamu adalah orang yang merugi."[4]
Saudaraku, tinggalkanlah kemaksiatan dan dosa jika engkau mengharapkan berkhalwah (menyendiri) dengan Allah Yang Mahamengetahui segala yang ghaib!
2. Tidak Meninggalkan Tidur Siang Karena Itu Adalah Sunnah
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِسْتَعِيْنُوْا بِطَعَامِ السَّحَـرِ عَلَى صِيَامِ النَّـهَارِ، وَبِالْقَيْلُوْلَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ.
"Jadikanlah makanan sahur sebagai sarana untuk membantumu melakukan puasa di siang hari dan tidur pada tengah hari sebagai sarana untuk membantumu melakukan shalat Tahajjud."[5]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu, menggiatkan dan menjadikan orang beramal dengan terus-menerus. Sebab sibuk di siang hari hingga tidak tidur pada tengah hari dapat membuat fisik lemah dan di malam hari tidur menjadi nyenyak.
Al-Hasan al-Bashri bila datang ke pasar dan mendengar hiruk pikuk orang-orang di sana, ia berkata, "Aku mengira malam mereka adalah malam yang buruk (karena tidur nyenyak dan tidak bertahajjud), mengapa mereka tidak tidur tengah hari?"[6]
3. Tidak Memperbanyak Makan
Sebab orang yang banyak makan akan banyak minum akan terlelap dalam tidur dan berat untuk melakukan shalat Tahajjud.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ إِبْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidak ada wadah yang paling buruk yang diisi manusia selain perutnya, cukuplah seorang anak Adam menyantap beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya maka hendaknya ia mem-berikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya."[7]
Diriwayatkan bahwa iblis menampakkan dirinya kepada Yahya bin Zakariya dengan membawa beberapa buah sendok. Yahya bertanya kepadanya, "Untuk apakah sendok-sendok ini?" Iblis menjawab, "Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menjebak anak keturunan Adam." Yahya bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendapatkan sesuatu dari jebakan atau diriku?" Ia menjawab, "Ya, tadi malam engkau kenyang, lalu aku menjadikanmu berat untuk melakukan shalat Tahajjud." Yahya berkata, "Aku pasti tidak akan mengenyangkan perutku lagi selamanya." Iblis berkata, "Aku pasti tidak akan memberi nasihat (saran) kepada siapa pun setelah saranku ini kepadamu."[8]
Wahab bin Munabih berkata, "Tidak ada anak keturunan Adam yang lebih disukai syaitan selain tukang makan dan tukang tidur." [9]
Mis'ar bin Kadam berkata:
وَجَدْتُ الْجُوْعَ يَطْرُدُهُ رَغِيْفُ
وَمَلَءَ الْكَفُّ مِنْ مَاءِ الْفُرَاتِ
وَقَلَّ الطَّعَمُ عَـوْنٌ لِلْمُصَلِّـي
وَكَثْرُ الطَّعَمِ عَوْنٌ لِلسَبَّاتِ
Aku temukan rasa lapar dapat disingkirkan
Dengan roti dan segenggam air sungai Eufrat.
Sedikit makanan dapat membantu orang yang shalat
Dan banyak makanan justru membantu orang-orang yang suka mencela. [10]
4. Tidak Membebankan Fisik Di Siang Hari
Misalnya dengan memberikan pekerjaan yang sangat berat dan membebaninya dengan pekerjaan yang membuat fisik dan otot lemah di siang hari. Hal ini akan membuat rasa kantuk di malam hari.
5. Mengamalkan Sunnah Saat Tidur
Yaitu dengan berupaya melakukan: (1). Membaca dzikir-dzikir yang dianjurkan sebelum tidur, karena itu semakin memperkokoh hubungan hamba dengan Rabb-nya. (2). Tidur di atas lambung sebelah kanan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menguraikan rahasia di balik cara tidur seperti ini dengan mengemukakan, "Tidur dengan cara berbaring di atas lambung sebelah kanan memiliki rahasia. Yaitu, bahwa hati berada di sebelah kiri, maka bila seseorang tidur di atas lambung kirinya, ia akan tidur sangat nyenyak karena dia dalam kondisi tenang dan nyaman sehingga tidur jadi nyenyak. Sementara bila ia tidur di atas lambung sebelah kanan, tidurnya tidak nyenyak karena hatinya tidak menentu (gelisah) ingin mencari tempat menetapnya. Karena itulah para ahli medis menganjurkan tidur dengan posisi di atas lambung sebelah kiri karena itulah posisi istirahat yang paling sem-purna dan tidur yang paling nyaman. Sedang-kan agama menyunnahkan tidur di atas lambung sebelah kanan agar tidurnya tidak nyenyak se-hingga tidak meninggalkan shalat Tahajjud. Jadi tidur di atas lambung sebelah kanan bermanfaat bagi hati dan di atas sebelah kiri bermanfaat bagi tubuh. Wallaahu a'lam."[11]
Faktor Batin:
Faktor batin ini dijelaskan Imam al-Ghazali rahimahullah dalam bukunya Ihyaa' ‘Uluumid Diin:
1. Membersihkan hati dari sifat dengki terhadap kaum muslimin, dari perbuatan bid'ah dan dari keinginan duniawi yang berlebihan. Sebab orang yang mencurahkan sepenuh pikirannya untuk urusan duniawi tidak akan mudah melakukan shalat Tahajjud. Kalau pun ia melakukannya, dalam shalatnya yang dipikirkan hanyalah urusan duniawi dan yang terbayang dalam pikiranya hanyalah bisikan-bisikan dunia tersebut.
2. Rasa takut yang mendominasi hati disertai angan-angan hidup yang pendek. Sebab bila seseorang merenungkan huru-hara kehidupan akhirat dan tingkatan terbawah Neraka Jahannam maka tidurnya tidak akan nyenyak dan takutnya sangat besar, sebagaimana dikatakan Thawus, "Mengingat Neraka Jahannam menjadikan tidurnya ahli ibadah tidak nyenyak."
مَنَعَ الْقُـرْآنُ بِوَعْدِهِ وَوَعِيْـدِهِ
مُقِلُّ الْعُـيُوْنُ بِلَيْلِهَا أَنْ تَهْجَـعَا
فَهِمُوْ عَنِ الْمَلِكِ الْجَلِيْلِ كَلاَمُهُ
فَرِقَابُهُمْ ذَلَّتْ إِلَيْـهِِ تَخَـضَّعَا
Al-Qur-an dengan janji dan ancamannya
Membuat mata tidak dapat tidur di malam hari.
Mereka memahami firman Raja Yang Mahaagung (Allah)
Lalu mereka merendah dan tunduk kepada-Nya.
3. Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dengan menyimak ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar-atsar, hingga timbul keinginan dan kerindu-annya terhadap pahalanya sangat besar. Rasa rindu itu kemudian mendorongnya untuk mendapatkan pahala yang lebih dan keinginan mencapai dejarat Surga.
4. Ini adalah faktor yang paling mulia. Yaitu mencintai Allah dan keyakinan yang kuat, bahwa dalam shalat Tahajjud dia tidak mengucapkan satu huruf pun melainkan ia tengah bermunajat kepada Rabb-nya dan menyaksikan-Nya, disertai dengan kesaksiannya terhadap apa yang terlintas di hatinya. Bisikan yang ada di dalam hatinya yang datang dari Allah itu adalah pembicaraannya dengan-Nya. Bila ia telah mencintai Allah, pasti ia ingin berduaan bersama-Nya dan menikmati munajat dengan-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk berlama-lama dalam shalat. Kenikmatan ini tidaklah mustahil dan generasi Salaf kita telah merasakannya.
Abu Sulaiman berkata, "Seandainya Allah memperlihatkan kepada orang-orang yang senantiasa melakukan shalat Tahajjud pahala dari amal mereka, tentu kenikmatan yang mereka rasakan lebih besar dari pahala yang mereka dapat."
Ibnu al-Munkadir berkata, "Tidak ada kenikmatan dunia kecuali tiga; shalat Tahajjud, berkumpul bersama saudara seiman dan shalat dengan berjama'ah."
Ketahuilah bahwa karunia dan kenikmatan inilah yang paling diharapkan, karena shalat malam dapat membuat hati bersih dan menyingkirkan segala problem kehidupan.[12]
[Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun" karya Muhammad bin Su'ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
Sesungguhnya melakukan shalat Tahajjud dan mengekang dorongan hawa nafsu dan syaitan, adalah sesuatu yang teramat berat dan sulit kecuali bagi orang yang dimudahkan dan ditolong oleh Allah.
Ada beberapa faktor yang bisa membantu dan memotivasi seseorang untuk melakukan shalat Tahajjud serta memudahkannya dengan izin Allah. Faktor ini terbagi dua bagian; sarana lahir dan sarana batin.
Faktor Lahir:
1. Menjauhi Perbuatan Dosa Dan Maksiat
Yaitu, tidak melakukan perbuatan dosa di siang hari dan di malam hari, karena hal itu bisa membuat hati keras dan menghalangi seseorang dari curahan rahmat.
Seorang laki-laki bertanya kepada al-Hasan al-Bashri, "Wahai Abu Sa'id, semalaman aku dalam keadaan sehat, lalu aku ingin melakukan shalat malam dan aku telah menyiapkan kebutuhan untuk bersuci, tapi mengapa aku tidak dapat bangun?" Al-Hasan menjawab, "Dosa-dosamu mengikatmu."[1]
Sufyan ats-Tsauri berkata, "Selama lima bulan aku merugi tidak melakukan shalat Tahajjud karena dosa yang aku perbuat." Ia ditanya, "Apakah dosa yang engkau lakukan?" Ia menjawab: "Aku melihat seseorang menangis, lalu aku berkata dalam diriku, 'Orang ini riya'.'"[2]
Sebagian orang shalih berkata, "Betapa banyak makanan yang bisa menghalangi orang melakukan shalat Tahajjud dan betapa banyak pandangan yang membuat orang rugi tidak membaca sebuah surat. Sesungguhnya seorang hamba kadang memakan suatu makanan atau melakukan suatu perbuatan lalu ia diharamkan karenanya dari melakukan shalat Tahajjud selama setahun."[3]
Fudhail bin 'Iyadh berkata, "Bila kamu tidak mampu melakukan shalat Tahajjud di malam hari dan puasa di siang hari maka kamu adalah orang yang merugi."[4]
Saudaraku, tinggalkanlah kemaksiatan dan dosa jika engkau mengharapkan berkhalwah (menyendiri) dengan Allah Yang Mahamengetahui segala yang ghaib!
2. Tidak Meninggalkan Tidur Siang Karena Itu Adalah Sunnah
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, ia menuturkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اِسْتَعِيْنُوْا بِطَعَامِ السَّحَـرِ عَلَى صِيَامِ النَّـهَارِ، وَبِالْقَيْلُوْلَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ.
"Jadikanlah makanan sahur sebagai sarana untuk membantumu melakukan puasa di siang hari dan tidur pada tengah hari sebagai sarana untuk membantumu melakukan shalat Tahajjud."[5]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu, menggiatkan dan menjadikan orang beramal dengan terus-menerus. Sebab sibuk di siang hari hingga tidak tidur pada tengah hari dapat membuat fisik lemah dan di malam hari tidur menjadi nyenyak.
Al-Hasan al-Bashri bila datang ke pasar dan mendengar hiruk pikuk orang-orang di sana, ia berkata, "Aku mengira malam mereka adalah malam yang buruk (karena tidur nyenyak dan tidak bertahajjud), mengapa mereka tidak tidur tengah hari?"[6]
3. Tidak Memperbanyak Makan
Sebab orang yang banyak makan akan banyak minum akan terlelap dalam tidur dan berat untuk melakukan shalat Tahajjud.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ إِبْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٍ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لاَ مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ.
"Tidak ada wadah yang paling buruk yang diisi manusia selain perutnya, cukuplah seorang anak Adam menyantap beberapa suap makanan saja yang dapat mengokohkan tulang punggungnya. Jika memang ia harus mengisi perutnya maka hendaknya ia mem-berikan sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya."[7]
Diriwayatkan bahwa iblis menampakkan dirinya kepada Yahya bin Zakariya dengan membawa beberapa buah sendok. Yahya bertanya kepadanya, "Untuk apakah sendok-sendok ini?" Iblis menjawab, "Ini adalah syahwat yang aku gunakan untuk menjebak anak keturunan Adam." Yahya bertanya kepadanya, "Apakah engkau mendapatkan sesuatu dari jebakan atau diriku?" Ia menjawab, "Ya, tadi malam engkau kenyang, lalu aku menjadikanmu berat untuk melakukan shalat Tahajjud." Yahya berkata, "Aku pasti tidak akan mengenyangkan perutku lagi selamanya." Iblis berkata, "Aku pasti tidak akan memberi nasihat (saran) kepada siapa pun setelah saranku ini kepadamu."[8]
Wahab bin Munabih berkata, "Tidak ada anak keturunan Adam yang lebih disukai syaitan selain tukang makan dan tukang tidur." [9]
Mis'ar bin Kadam berkata:
وَجَدْتُ الْجُوْعَ يَطْرُدُهُ رَغِيْفُ
وَمَلَءَ الْكَفُّ مِنْ مَاءِ الْفُرَاتِ
وَقَلَّ الطَّعَمُ عَـوْنٌ لِلْمُصَلِّـي
وَكَثْرُ الطَّعَمِ عَوْنٌ لِلسَبَّاتِ
Aku temukan rasa lapar dapat disingkirkan
Dengan roti dan segenggam air sungai Eufrat.
Sedikit makanan dapat membantu orang yang shalat
Dan banyak makanan justru membantu orang-orang yang suka mencela. [10]
4. Tidak Membebankan Fisik Di Siang Hari
Misalnya dengan memberikan pekerjaan yang sangat berat dan membebaninya dengan pekerjaan yang membuat fisik dan otot lemah di siang hari. Hal ini akan membuat rasa kantuk di malam hari.
5. Mengamalkan Sunnah Saat Tidur
Yaitu dengan berupaya melakukan: (1). Membaca dzikir-dzikir yang dianjurkan sebelum tidur, karena itu semakin memperkokoh hubungan hamba dengan Rabb-nya. (2). Tidur di atas lambung sebelah kanan.
Ibnul Qayyim rahimahullah menguraikan rahasia di balik cara tidur seperti ini dengan mengemukakan, "Tidur dengan cara berbaring di atas lambung sebelah kanan memiliki rahasia. Yaitu, bahwa hati berada di sebelah kiri, maka bila seseorang tidur di atas lambung kirinya, ia akan tidur sangat nyenyak karena dia dalam kondisi tenang dan nyaman sehingga tidur jadi nyenyak. Sementara bila ia tidur di atas lambung sebelah kanan, tidurnya tidak nyenyak karena hatinya tidak menentu (gelisah) ingin mencari tempat menetapnya. Karena itulah para ahli medis menganjurkan tidur dengan posisi di atas lambung sebelah kiri karena itulah posisi istirahat yang paling sem-purna dan tidur yang paling nyaman. Sedang-kan agama menyunnahkan tidur di atas lambung sebelah kanan agar tidurnya tidak nyenyak se-hingga tidak meninggalkan shalat Tahajjud. Jadi tidur di atas lambung sebelah kanan bermanfaat bagi hati dan di atas sebelah kiri bermanfaat bagi tubuh. Wallaahu a'lam."[11]
Faktor Batin:
Faktor batin ini dijelaskan Imam al-Ghazali rahimahullah dalam bukunya Ihyaa' ‘Uluumid Diin:
1. Membersihkan hati dari sifat dengki terhadap kaum muslimin, dari perbuatan bid'ah dan dari keinginan duniawi yang berlebihan. Sebab orang yang mencurahkan sepenuh pikirannya untuk urusan duniawi tidak akan mudah melakukan shalat Tahajjud. Kalau pun ia melakukannya, dalam shalatnya yang dipikirkan hanyalah urusan duniawi dan yang terbayang dalam pikiranya hanyalah bisikan-bisikan dunia tersebut.
2. Rasa takut yang mendominasi hati disertai angan-angan hidup yang pendek. Sebab bila seseorang merenungkan huru-hara kehidupan akhirat dan tingkatan terbawah Neraka Jahannam maka tidurnya tidak akan nyenyak dan takutnya sangat besar, sebagaimana dikatakan Thawus, "Mengingat Neraka Jahannam menjadikan tidurnya ahli ibadah tidak nyenyak."
مَنَعَ الْقُـرْآنُ بِوَعْدِهِ وَوَعِيْـدِهِ
مُقِلُّ الْعُـيُوْنُ بِلَيْلِهَا أَنْ تَهْجَـعَا
فَهِمُوْ عَنِ الْمَلِكِ الْجَلِيْلِ كَلاَمُهُ
فَرِقَابُهُمْ ذَلَّتْ إِلَيْـهِِ تَخَـضَّعَا
Al-Qur-an dengan janji dan ancamannya
Membuat mata tidak dapat tidur di malam hari.
Mereka memahami firman Raja Yang Mahaagung (Allah)
Lalu mereka merendah dan tunduk kepada-Nya.
3. Mengetahui keutamaan shalat Tahajjud dengan menyimak ayat-ayat, hadits-hadits dan atsar-atsar, hingga timbul keinginan dan kerindu-annya terhadap pahalanya sangat besar. Rasa rindu itu kemudian mendorongnya untuk mendapatkan pahala yang lebih dan keinginan mencapai dejarat Surga.
4. Ini adalah faktor yang paling mulia. Yaitu mencintai Allah dan keyakinan yang kuat, bahwa dalam shalat Tahajjud dia tidak mengucapkan satu huruf pun melainkan ia tengah bermunajat kepada Rabb-nya dan menyaksikan-Nya, disertai dengan kesaksiannya terhadap apa yang terlintas di hatinya. Bisikan yang ada di dalam hatinya yang datang dari Allah itu adalah pembicaraannya dengan-Nya. Bila ia telah mencintai Allah, pasti ia ingin berduaan bersama-Nya dan menikmati munajat dengan-Nya, sehingga hal itu mendorongnya untuk berlama-lama dalam shalat. Kenikmatan ini tidaklah mustahil dan generasi Salaf kita telah merasakannya.
Abu Sulaiman berkata, "Seandainya Allah memperlihatkan kepada orang-orang yang senantiasa melakukan shalat Tahajjud pahala dari amal mereka, tentu kenikmatan yang mereka rasakan lebih besar dari pahala yang mereka dapat."
Ibnu al-Munkadir berkata, "Tidak ada kenikmatan dunia kecuali tiga; shalat Tahajjud, berkumpul bersama saudara seiman dan shalat dengan berjama'ah."
Ketahuilah bahwa karunia dan kenikmatan inilah yang paling diharapkan, karena shalat malam dapat membuat hati bersih dan menyingkirkan segala problem kehidupan.[12]
[Disalin dari kitab "Kaanuu Qaliilan minal Laili maa Yahja’uun" karya Muhammad bin Su'ud al-‘Uraifi diberi pengantar oleh Syaikh 'Abdullah al-Jibrin, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Shalat Tahajjud, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Ihya'-u 'Uluumid Diin (I/313).
[2]. Ibid, (I/314)
[3]. Ash-Shalaatu wat Tahajjud (hal. 322).
[4]. Al-Hilyah (VIII/91).
[5]. HR. Ibnu Majah dalam kitab ash-Shiyaam, bab Maa Jaa-a fis Sahuur,
(hadits no. 1693). Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Zam'ah bin
Shalih, Ibnu Hajar menilainya. Semen-tara dalam hadits yang dinilai
shahih oleh al-Albani dari Anas Radhiyallahu anhu Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
قِيْلُوْا فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ.
"Tidurlah pada tengah hari (siang hari) karena syaitan tidak tidur
pada tengah hari." Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Sha-hiihah (no.
2647).
[6]. Ash-Shalaatu wat Tahajjud (hal. 308).
[7]. HR. At-Tirmidzi dalam kitab az-Zuhd, bab Maa Jaa-a fii Karaahiyati
Katsratil Akl, (hadits no. 2380) dengan komentar-nya, "Hadits ini hasan
shahih," Ibnu Majah dalam kitab al-Ath'imah, bab al-Iqthisharu fil Akli
wa Karaahiyatusy Syib'a, (hadits no. 3349). Hadits ini dinilai shahih
oleh al-Albani dalam Jaami'ush Shahiih (no. 5550).
[8]. Ash-Shalaatu wat Tahajjud (hal. 320).
[9]. Az-Zuhd oleh Imam Ahmad, (hal. 373).
[10]. Al-Hilyah (VII/219).
[11]. Baca Zaadul Ma’aad (I/321).
[12]. Ihyaa' ‘Uluumid Diin (I/314-315) dengan beberapa perubahan redaksi.
Wednesday, October 24, 2012
Wednesday, October 3, 2012
Tuesday, May 1, 2012
O Allah! Please grant me the one
Who will be the garment for my soul
Who will satisfy half of my deen
And in doing so make me whole
Make him righteous and on your path
In all he'll do and say
And sprinkle water on me at Fajr
Reminding me to pray
May he earn from halal sources
And spend within his means
May he seek Allah's guidance always
To fulfill all his dreams
May he always refer to Qur'an
and the Sunnah as his moral guide
May he thank and appreciate Allah
For the woman at his side
May he be conscious of his anger
And often fast and pray
Be charitable and sensitive
In every possible way
May he honor and protect me
And guide me in this life
And please Allah! Make me worthy
to be his loving wife
And finally, O Allah!
Make him abundant in love and laughter
In taqwa and sincerity
In striving for the hereafter!
May Allah grant all the Muslim sisters with such husbands... Ameen!
Who will be the garment for my soul
Who will satisfy half of my deen
And in doing so make me whole
Make him righteous and on your path
In all he'll do and say
And sprinkle water on me at Fajr
Reminding me to pray
May he earn from halal sources
And spend within his means
May he seek Allah's guidance always
To fulfill all his dreams
May he always refer to Qur'an
and the Sunnah as his moral guide
May he thank and appreciate Allah
For the woman at his side
May he be conscious of his anger
And often fast and pray
Be charitable and sensitive
In every possible way
May he honor and protect me
And guide me in this life
And please Allah! Make me worthy
to be his loving wife
And finally, O Allah!
Make him abundant in love and laughter
In taqwa and sincerity
In striving for the hereafter!
May Allah grant all the Muslim sisters with such husbands... Ameen!
By: Muslim Marriage
Sunday, January 22, 2012
O Allah! Please grant me the one
Who will be the garment for my soul
Who will satisfy half of my deen
And in doing so make me whole
Make him righteous and on your path
In all he'll do and say
And sprinkle water on me at Fajr
Reminding me to pray
May he earn from halal sources
And spend within his means
May he seek Allah's guidance always
To fulfill all his dreams
May he always refer to Qur'an
and the Sunnah as his moral guide
May he thank and appreciate Allah
For the woman at his side
May he be conscious of his anger
And often fast and pray
Be charitable and sensitive
In every possible way
May he honor and protect me
And guide me in this life
And please Allah! Make me worthy
to be his loving wife
And finally, O Allah!
Make him abundant in love and laughter
In taqwa and sincerity
In striving for the hereafter!
May Allah grant all the Muslim sisters with such husbands... Ameen!
Who will be the garment for my soul
Who will satisfy half of my deen
And in doing so make me whole
Make him righteous and on your path
In all he'll do and say
And sprinkle water on me at Fajr
Reminding me to pray
May he earn from halal sources
And spend within his means
May he seek Allah's guidance always
To fulfill all his dreams
May he always refer to Qur'an
and the Sunnah as his moral guide
May he thank and appreciate Allah
For the woman at his side
May he be conscious of his anger
And often fast and pray
Be charitable and sensitive
In every possible way
May he honor and protect me
And guide me in this life
And please Allah! Make me worthy
to be his loving wife
And finally, O Allah!
Make him abundant in love and laughter
In taqwa and sincerity
In striving for the hereafter!
May Allah grant all the Muslim sisters with such husbands... Ameen!
By: Muslim Marriage
Thursday, December 1, 2011
benefit of Al-Kahf
It is recommended to recite Surat al-Kahf completely the night before Friday, and it is also recommended to do so Friday itself, before Maghrib time. Ibn Abidin said, �And it is best to do so early on Friday, in order to rush to the good and to avoid forgetting. � [Ibn Abidin, Radd al-Muhtar, �Bab al-Jumu`ah�]
The evidence for it being recommended includes the hadith related by Hakim and Bayhaqi, from Abu Sa`id (Allah be pleased with him), �Whoever recites Surat al-Kahf on Friday, light shall shine forth for him between the two Fridays.� [Ibn Hajar, Talkhis al-Habir]
It is mentioned in Heavenly Ornaments, by Imam al-Tahanawi:
The evidence for it being recommended includes the hadith related by Hakim and Bayhaqi, from Abu Sa`id (Allah be pleased with him), �Whoever recites Surat al-Kahf on Friday, light shall shine forth for him between the two Fridays.� [Ibn Hajar, Talkhis al-Habir]
It is mentioned in Heavenly Ornaments, by Imam al-Tahanawi:
Tuesday, November 15, 2011
hidden hurts
Hidden hurts only shows smiles to people......
Judges look like only one side mistakes.....without see byself
Judge me if u think u never do mistakes..
Blame me..if u think u r perfect
Facing life without anyone understanding u..u just understanding people..
Walking alone without caring&love it is hard
Finding the best isnt easy..
Anywhere found hurts..
Stopping walking isnt good choice..
Silence..n ask Allah Allah..
where is mine?
Where is my happiness?
Who is the truly love me?
Who is the real care to me?
I am tired my dear Allah
Still patients i must do
How long dear Allah?
Could give me happiness before my death?
by maliza falihah
Judges look like only one side mistakes.....without see byself
Judge me if u think u never do mistakes..
Blame me..if u think u r perfect
Facing life without anyone understanding u..u just understanding people..
Walking alone without caring&love it is hard
Finding the best isnt easy..
Anywhere found hurts..
Stopping walking isnt good choice..
Silence..n ask Allah Allah..
where is mine?
Where is my happiness?
Who is the truly love me?
Who is the real care to me?
I am tired my dear Allah
Still patients i must do
How long dear Allah?
Could give me happiness before my death?
by maliza falihah
Saturday, October 29, 2011
Zina (Fornication), A Major Sin, and How to Repent
What is Zina?
source : http://aa.trinimuslims.com
There are many forms of Zina, but what we are addressing here is the highest form. This is adultery, fornication, having sexual intercourse without being married to the person.
Allah (SWT)'s order in the Quran to stay away from Zina:
And those who invoke not any other god along with Allah, nor kill such life as Allah has forbidden, except for just cause, not commit illegal sexual intercourse (zina) and whoever does this shall receive the punishment. The torment will be doubled to him on the Day of Resurrection, and he will abide therein in disgrace; except those who repent and believe and do righteous deeds, for those Allah will change their sins into good deeds, and Allah is Oft Forgiving, Most Merciful. (al-Furqaan 25:68-70)
And come not near to unlawful sexual intercourse. Verily, it is a faahishah (a great sin) and an evil way. (Sura Al-Israa 17:32)
Imaam al-Qurtubi (rahimaullah) said: The ulama said that the phrase And come not near to unlawful sexual intercourse is more eloquent than merely saying Do not commit zinaa, because the meaning is, Do not even come close to zinaa. This means not doing any deed that may get close to zinaa or lead to it, such as being alone with a member of the opposite sex, touching, looking, going to evil places, speaking in a haraam manner to a woman to whom one is not related, thinking about and planning immoral acts, and so on.
"Tell the believing men to lower their gaze (from looking at forbidden things), and protect their private parts (from Zina illegal sexual acts, etc.). That is purer for them. Verily, Allh is All-Aware of what they do. And tell the believing women to lower their gaze (from looking at forbidden things), and protect their private parts (from Zina illegal sexual acts, etc.) and not to show off their adornment except only that which is apparent (like palms of hands or one eye or both eyes for necessity to see the way, or outer dress like veil, gloves, head-cover, apron, etc.), and to draw their veils all over Juyubihinna (i.e. their bodies, faces, necks and bosoms, etc.) and not to reveal their adornment except to their husbands, their fathers, their husband's fathers, their sons, their husband's sons, their brothers or their brother's sons, or their sister's sons, or their (Muslim) women (i.e. their sisters in Islam), or the (female) slaves whom their right hands possess, or old male servants who lack vigour, or small children who have no sense of the shame of sex. And let them not stamp their feet so as to reveal what they hide of their adornment. And all of you beg Allh to forgive you all, O believers, that you may be successful." (Sura 24:30-31)
Hadith warning against not even coming close to Zina: Some persons from Banu Hisham entered the house of Asma' daughter of Umays when AbuBakr also entered (and she was at that time his wife). He (Abu Bakr) saw it and disapproved of it and he made a mention of that to Allah's Messenger (saws) and said:
I did not see but good only (in my wife). Thereupon Allah's Messenger (saws) said: Verily Allah has made her immune from all this. Then Allah's Messenger (saws) stood on the pulpit and said: After this day no man should enter the house of another person in his absence, but only when he is accompanied by one person or two persons. (Sahih Al-Bukhari Book 25, Hadith # 5403)
Abd-Allaah ibn Masood (RAA) said:
I asked the Messenger of Allaah (saws), Which sin is worst in the sight of Allaah? He said, To make any rival to Allah, when He has created you. I asked, Then what? He said, To kill your child for fear that he will eat with you. I asked, Then what? He said, To commit zinaa with the wife of your neighbour. (Reported in Sahih Al-Bukhaari, Hadith #492 and In Shaih Muslim, Hadith #90).
Rasulullah (saws) explained:
If one of you were to be stabbed in the head with a piece of iron it would be better for him than if he were to touch a woman whom it is not permissible for him to touch. (Reported by al-Tabaraani; see also Saheeh al-Jaami, 5045).
This refers to the punishment for touching, so how about worse deeds, such as embracing and kissing, and even worse kinds of illicit activity?
Rasulullah (saws) said, "Whenever a man is alone with a woman the Devil makes a third."(Al-Tirmidhi 3118, Narrated Umar ibn al-Khattab , Tirmidhi transmitted it as authentic) note: So we should always try not to be alone with a woman who is not mahrum to us and not even go close to Zina. >
Repentence from Zina
Ibn Abbaas (RAA) said: There is no major sin if one asks for forgiveness, and there is no minor sin if one persists in repeating it. So if one wants to repent from haning made the great sin of Zina he should remember these 4 things..
1) Do not despair, for Allah the Most Exalted and Glorified said in the Quran "Say: Oh my servants who have transgressed against their souls! Despair not of the mercy of Allah, for Allah forgives all sins; for He is oft-forgiving, most merciful." [Surah 39:53]
2) Let your repentance be truly from your heart, and stay away from all sources of temptations. Also, perform many good deeds, as good deeds abrogate the bad ones.
3) If you repent to Allah, you are no longer described as a fornicator (zaani). Therefore, you can marry a chaste woman.
4) The believer has high hope and aspiration for the best from Allah. He not only asks Allah for making his punishment easy in hellfire, but he also prays to Allah the Almighty to save him from Hell and award him with paradise for his repentance and good deeds.
source : http://aa.trinimuslims.com
There are many forms of Zina, but what we are addressing here is the highest form. This is adultery, fornication, having sexual intercourse without being married to the person.
Allah (SWT)'s order in the Quran to stay away from Zina:
And those who invoke not any other god along with Allah, nor kill such life as Allah has forbidden, except for just cause, not commit illegal sexual intercourse (zina) and whoever does this shall receive the punishment. The torment will be doubled to him on the Day of Resurrection, and he will abide therein in disgrace; except those who repent and believe and do righteous deeds, for those Allah will change their sins into good deeds, and Allah is Oft Forgiving, Most Merciful. (al-Furqaan 25:68-70)
And come not near to unlawful sexual intercourse. Verily, it is a faahishah (a great sin) and an evil way. (Sura Al-Israa 17:32)
Imaam al-Qurtubi (rahimaullah) said: The ulama said that the phrase And come not near to unlawful sexual intercourse is more eloquent than merely saying Do not commit zinaa, because the meaning is, Do not even come close to zinaa. This means not doing any deed that may get close to zinaa or lead to it, such as being alone with a member of the opposite sex, touching, looking, going to evil places, speaking in a haraam manner to a woman to whom one is not related, thinking about and planning immoral acts, and so on.
"Tell the believing men to lower their gaze (from looking at forbidden things), and protect their private parts (from Zina illegal sexual acts, etc.). That is purer for them. Verily, Allh is All-Aware of what they do. And tell the believing women to lower their gaze (from looking at forbidden things), and protect their private parts (from Zina illegal sexual acts, etc.) and not to show off their adornment except only that which is apparent (like palms of hands or one eye or both eyes for necessity to see the way, or outer dress like veil, gloves, head-cover, apron, etc.), and to draw their veils all over Juyubihinna (i.e. their bodies, faces, necks and bosoms, etc.) and not to reveal their adornment except to their husbands, their fathers, their husband's fathers, their sons, their husband's sons, their brothers or their brother's sons, or their sister's sons, or their (Muslim) women (i.e. their sisters in Islam), or the (female) slaves whom their right hands possess, or old male servants who lack vigour, or small children who have no sense of the shame of sex. And let them not stamp their feet so as to reveal what they hide of their adornment. And all of you beg Allh to forgive you all, O believers, that you may be successful." (Sura 24:30-31)
Hadith warning against not even coming close to Zina: Some persons from Banu Hisham entered the house of Asma' daughter of Umays when AbuBakr also entered (and she was at that time his wife). He (Abu Bakr) saw it and disapproved of it and he made a mention of that to Allah's Messenger (saws) and said:
I did not see but good only (in my wife). Thereupon Allah's Messenger (saws) said: Verily Allah has made her immune from all this. Then Allah's Messenger (saws) stood on the pulpit and said: After this day no man should enter the house of another person in his absence, but only when he is accompanied by one person or two persons. (Sahih Al-Bukhari Book 25, Hadith # 5403)
Abd-Allaah ibn Masood (RAA) said:
I asked the Messenger of Allaah (saws), Which sin is worst in the sight of Allaah? He said, To make any rival to Allah, when He has created you. I asked, Then what? He said, To kill your child for fear that he will eat with you. I asked, Then what? He said, To commit zinaa with the wife of your neighbour. (Reported in Sahih Al-Bukhaari, Hadith #492 and In Shaih Muslim, Hadith #90).
Rasulullah (saws) explained:
If one of you were to be stabbed in the head with a piece of iron it would be better for him than if he were to touch a woman whom it is not permissible for him to touch. (Reported by al-Tabaraani; see also Saheeh al-Jaami, 5045).
This refers to the punishment for touching, so how about worse deeds, such as embracing and kissing, and even worse kinds of illicit activity?
Rasulullah (saws) said, "Whenever a man is alone with a woman the Devil makes a third."(Al-Tirmidhi 3118, Narrated Umar ibn al-Khattab , Tirmidhi transmitted it as authentic) note: So we should always try not to be alone with a woman who is not mahrum to us and not even go close to Zina. >
Repentence from Zina
Ibn Abbaas (RAA) said: There is no major sin if one asks for forgiveness, and there is no minor sin if one persists in repeating it. So if one wants to repent from haning made the great sin of Zina he should remember these 4 things..
1) Do not despair, for Allah the Most Exalted and Glorified said in the Quran "Say: Oh my servants who have transgressed against their souls! Despair not of the mercy of Allah, for Allah forgives all sins; for He is oft-forgiving, most merciful." [Surah 39:53]
2) Let your repentance be truly from your heart, and stay away from all sources of temptations. Also, perform many good deeds, as good deeds abrogate the bad ones.
3) If you repent to Allah, you are no longer described as a fornicator (zaani). Therefore, you can marry a chaste woman.
4) The believer has high hope and aspiration for the best from Allah. He not only asks Allah for making his punishment easy in hellfire, but he also prays to Allah the Almighty to save him from Hell and award him with paradise for his repentance and good deeds.
__________________
[Quran Chapter 33 Verse 36]
Quote:
| "It is not for a believer, man or woman, when Allah and His Messenger have decreed a matter that they should have any option in their decision. And whoever disobeys Allah and His Messenger, he has indeed strayed in a plain error" |
Friday, October 14, 2011
Friday, September 2, 2011
Kisah Keislaman Cat Stevens (Yusuf Islam), Mantan Penyanyi Pop Internasional Yang Terkenal
“Aku terlahir dari sebuah rumah tangga Nasrani yang berpandangan materialis. Aku tumbuh besar seperti mereka. Setelah dewasa, muncul kekagumanku melihat para artis yang aku saksikan lewat berbagai media massa sampai aku mengganggap mereka sebagai dewa tertinggi. Lantas akupun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata aku menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang terpampang di berbagai media massa. Pada saat itu aku merasa bahwa diriku lebih besar dari alam ini dan seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan seperti itu.
Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?
Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha.
Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya.
Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur’an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur’an. Ketika aku membaca al-Qur’an aku dapati bahwa al-Qur’an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur’an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta.
Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam.
Pada hari Jum’at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku.
Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara.”
Demikianlah kisah Cat Stevens yang lagu “Morning Has Broken” sempat menduduki anak tangga Top 10 tingkat internasional dimasa kejayaannya. Sejak masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam, dan kini waktunya ia habiskan untuk melakukan aktifitas dakwah dan perjuangan untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin.
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qahthani, penerbit DARUL HAQ)
Namun pada suatu hari aku jatuh sakit dan terpaksa di opname di rumah sakit. Pada saat itulah aku mempunyai kesempatan untuk merenung hingga aku temui bahwa diriku hanya sepotong jasad dan apa yang selama ini aku lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku berada disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?
Setelah sembuh, aku mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lantas aku membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilah. Selanjutnya aku kembali ke gelanggang musik namun dengan gaya musik yang berbeda. Aku menciptakan lagu-lagu yang berisikan cara mengenal Allah. Ide ini malah membuat diriku semakin terkenal dan keuntungan pun semakin banyak dapat aku raih. Aku terus mencari kebenaran dengan ikhlas dan tetap berada di dalam lingkungan para artis. Pada suatu hari temanku yang beragama Nasrani pergi melawat ke masjidil Aqsha.
Ketika kembali, ia menceritakan kepadaku ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan ruhani dan ketenangan jiwa di dalamnya.
Hal ini berbeda dengan gereja, walau dipadati orang banyak namun ia merasakan kehampaan di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli al-Qur’an terjemahan dan ingin mengetahui bagaimana tanggapanku terhadap al-Qur’an. Ketika aku membaca al-Qur’an aku dapati bahwa al-Qur’an mengandung jawaban atas semua persoalanku, yaitu siapa aku ini? Dari mana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca al-Qur’an berulang-ulang dan aku merasa sangat kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan akupun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta.
Semakin kuat perasaan ini muncul dari jiwaku, membuat perasaan bangga terhadap diriku sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilah Yang Maha Berkuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwaku yang terdalam.
Pada hari Jum’at, aku bertekad untuk menyatukan akal dan pikiranku yang baru tersebut dengan segala perbuatanku. Aku harus menentukan tujuan hidup. Lantas aku melangkah menuju masjid dan mengumumkan keislamanku.
Aku mencapai puncak ketenangan di saat aku mengetahui bahwa aku dapat bermunajat langsung dengan Rabbku melalui ibadah shalat. Berbeda dengan agama-agama lain yang harus melalui perantara.”
Demikianlah kisah Cat Stevens yang lagu “Morning Has Broken” sempat menduduki anak tangga Top 10 tingkat internasional dimasa kejayaannya. Sejak masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Yusuf Islam, dan kini waktunya ia habiskan untuk melakukan aktifitas dakwah dan perjuangan untuk kemaslahatan agama ini. Ia ikut andil di dalam berbagai lembaga dan yayasan Islam yang bergerak di bidang dakwah dan sosial. Semoga Allah memberinya ganjaran yang baik atas sumbangsih yang telah ia berikan kepada kita, agama Islam dan kaum muslimin.
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qahthani, penerbit DARUL HAQ)














